Lapar Mata

Lapar identik dengan nafsu makan. Padahal sebenarnya kita manusia punya nafsu yang lain, yaitu nafsu syahwat dan nafsu kepada harta/ kekayaan dan kekuasaan.

Inget kata ustadz Muflih dalam sebuah Kajian Islam Rutin Ahad Pagi (KIRAP) di Masjid Ahmad Sathyan Kowangan, nafsu itu perlu ada. Kita memerlukan keberadaan nafsu dalam diri kita, baik itu nafsu makan, nafsu syahwat, maupun nafsu kepada harta/kekayaan dan kekuasaan.

Tanpa nafsu makan, maka kita tidak punya keinginan untuk makan, jika makan pun tidak merasakan kenikmatan. Akibatnya asupan kebutuhan gizi tidak terpenuhi, lemah, dan mudah sakit.

Tanpa nafsu syahwat, maka tidak ada saling merasa tertarik antara laki-laki dan perempuan, tidak ada keinginan untuk menikah, lebih-lebih lagi punya anak. Hidup pun jadi hambar.

Tanpa nafsu kepada harta/kekayaan dan kekuasaan, kita pasti kerja dengan ogah-ogahan, kan gak butuh duit, gak punya cita-cita untuk lebih maju, memperbaiki tingkat ekonomi, mempertahankan hidup layak dan sejahtera. Yang ada males-malesan, ujung-ujungnya banyak pengangguran.

Nah, mata, salah satu indera kita, yang akan menjadi salah satu sensor kita terhadap keberadaan dunia luar. Tentu saja mata menjadi salah satu jalan masuknya informasi dari luar tubuh kita, termasuk hal-hal yang menjadi nafsu kita. Dengan mata bisa melihat makanan lezat yang tampak menggoda, perempuan-perempuan cantik yang menarik perhatian, atau pun harta/kekayaan dan kekuasaan/jabatan yang ingin kita raih.

Nah, kembali kepada nafsu tadi. Nafsu tadi memang kita perlukan, tetapi perlu kita kontrol keberadaannya. Jika berlebihan makan bisa jadi obesitas, banyak penyakit mudah menyerang. Jika berlebihan dalam syahwat, maka muncul perilaku-perilaku menyimbang. Syahwatnya tidak disalurkan di jalan yang benar kepada suami/istrinya saja. Rusak lah moral kita. Pun ketika nafsu terhadap harta dan kekuasaan berlebihan dan tidak kita kontrol, maka bisa jadi menghalalkan cara yang haram untuk mendapatkannya. Bahkan sampai menipu, merampok, korupsi, dsb. Na’udzubillaahi min dzalik.

Oleh karena itu, salah satu pintu yang perlu kita kendalikan adalah pintu bernama mata. Mata yang baik akan membawa kebaikan, jika tidak kita kontrol bisa membinasakan kita. Lapar mata kita terhadap makanan, syahwat, dan harta/kekuasaan jangan dituruti semuanya. Pilahkan mana yang memang kita butuhkan, singkirkan dulu hal-hal yang hanya kita inginkan. Butuh dan ingin menjadi pertimbangan kita, cara mengontrol lapar mata kita.

Ghadhul bashar atau menundukkan (sebagian) pandangan adalah sebuah ajaran Islam yang dalam dan sarat makna kalau kita mau memikirkannya. Ghadhul bashar menjadi solusi kita dalam mengontrol lapar mata kita.

Kalau kita mengaplikasikannya, maka insyaAllah tidak ada makanan yang sia-sia, nafsu syahwat juga berada di jalan yang benar. Pun ketika orang lain memiliki harta atau kekuasaan atau apapun yang lebih dari kita, kita cukup tahu, tidak ada rasa dengki atau iri melihatnya. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengejar apa yang di luar kebutuhan dan kemampuan kita.

Allahu a’lam bishshowab. Semoga tulisan ini mampu terus mengingatkan saya untuk mengontrol lapar mata, bersyukur atas semua yang ada.

Tag:, , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Trackbacks / Pingbacks

  1. My First Trip to Singapore | Butir Pasir - Mei 20, 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: