Tasbih dan Istighfar dalam Kesuksesan

Assalamu’alaikum… ^_^

Huaah…ternyata dah lama banget gak posting ya… Gomen ne!

Sekedar mau share aja, aq ringkas dari kajian Ust. Ahmad Kusyairi Suhail, Lc. MA.

Semoga menjadikan kita lebih tawadhu’

***

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.” (QS. An-Nashr : 1-3)

Setiap manusia pasti menginginkan kesuksesan dalam hidupnya, kebahagiaan keluarga, juga bangsa dan negara yang maju. Akan tetapi manusia sering lupa dari mana hakikat kesuksesan dan kemenangan. Apa kunci untuk meraihnya? Dan bagaimana penyikapan yang benar terhadap kemenangan dan kesuksesan? Allah swt. memberikan rambu-rambu dalam Surat An-Nashr agar kemenangan dan kesuksesan membawa keberkahan hidup dan bukan bencana dan malapetaka.

Riwayat turunnya

Ada beberapa riwayat seputar turunnya Surat An-Nashr ini.

Riwayat pertama, ‘Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw dahulu sering membaca, ‘Subhaanallah wa bihamdihi, astaghfirulla wa atuubu ilaihi, (Maha suci Allah dan dengan selalu memuji-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya)’. Lalu aku bertanya, ‘Ya Rasulallah, aku melihatmu sering membaca subhanallah wa bihamdihi, astaghfirullah wa atuubu ilaihi’(mengapa?). beliau menjawab, ‘Rabbku memberitahuku bahwa aku akan melihat suatu pertanda (kebaikan) pada umatku dan memerintahkanku apabila aku melihat pertanda itu untuk memperbanyak bacaan (dzikir) itu. Maka, sungguh benar-benar aku telah melihatnya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat.”’(HR. Muslim No. 1116)

Imam Ibnu Katsir berkomentar, bahwa yang dimaksud dengan “Al-Fath” (kemenangan) dalam ayat tersebut adalah Fathu Makkah pada Tahun 630 M atau 10 Ramadhan 8H. Sesungguhnya penduduk perkampungan Arab yang diharapkan masuk Islam, menunggu-nunggu Fathu Makkah. Mereka mengatakan, “Jika ia (Muhammad saw) menang atas kaumnya, maka ia pasti nabi.” Maka ketika Allah benar-benar membebaskan baginya negeri Mekkah, masuklah mereka pada agama Allah dengan berbondong-bondong. Belum berjalan dua tahun hingga Jazirah Arab bertabur keimanan, tidak ada satu pun kabilah Arab kecuali memperlihatkan keislamannya. Maka, hanya milik Allah semata pujian dan anugerah. (Tafsir Ibnu Katsir V/269). Hal ini sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, hadits No. 4302.

Riwayat lain dari cerita Ibnu ‘Abbas ra, ia bercerita, “Dahulu Umar memasukkanku ke dalam (majelis) para sesepuh veteran Badar. Lalu, sepertinya sebagian mereka kurang suka (dengan keberadaanku yang masih belia ada di majelis mereka), sehingga mereka protes kepada Umar ra, ‘Mengapa engkau masukkan bocah ini bersama kami, kami pun punya anak-anak seusianya?!’ Maka Umar menjawab, ‘Sungguh nanti kalian akan tahu (kepintarannya).’

Lalu suatu hari Umar mengundang mereka dan memasukkan Ibnu ‘Abbas dan bersama mereka. ‘Aku tidak melihat beliau mengundangku pada hari itu kecuali ingin memperlihatkan/ menguji mereka.’ Umar bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana pendapat kalian tentang firman Allah Ta’ala?’ Sebagian mereka menjawab, ‘kami diperintah untuk memuji Allah dan meminta ampun kepada-Nya jika dimenangkan (kota Mekkah) buat kami.’ Sebagian yang lain diam dan tidak menyatakan pendapat apapun.

Kemudian, beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah begitu juga pendapatmu Wahai Ibnu ‘Abbas?’ Maka akupun menjawab, ‘Tidak’. Beliau bertanya lagi, ‘Lalu apa pendapatmu (tentang surat An-Nashr ini)?’ Aku menjawab, ‘Dia (surat An-Nashr maksudnya) adalah (semakin dekatnya) ajal Rasulullah, Allah memberitahu hal itu kepadanya. Ia berfirman, ‘Idza jaa-a nashrullahi wal fath’ dan itu adalah pertanda ajalmu.’

‘Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu innahu kaana tawwaaba.’ Lalu Umar berkata, ‘Aku tidak memahami dari surat ini kecuali seperti apa yang kamu katakan tadi.’ (HR. Bukhari No. 4970)

Waktu Turunnya Surat

Ada dua pendapat tentang waktu turunnya surat An-Nashr.

Pendapat pertama, mengatakan bahwa peristiwa Fathu Makkah terjadi pada Bulan Ramadhan 8 H, sementara surat ini turun pada 10 H. Dan diriwayatkan bahwa Nabi saw hidup 70 hari setelah turunnya surat ini, yaitu tepatnya beliau wafat pada Bulan Rabi’ul Awwal Tahun 10 H. Untuk itu surat ini dinamai pula dengan surat At-Taudi’ atau surat perpisahan.

Pendapat kedua, surat ini  turun sebelum Fathu Makkah. Hal itu merupakan janji bagi Rasulullah saw untuk menolong dan memenangkannya terhadap penduduk Mekkah serta akan membebaskan Mekkah untuknya, sebagaimana firman Allah swt berikut.

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali [yakni kota Mekkah. Ini adalah suatu janji dari Tuhan bahwa Nabi Muhammad saw akan kembali ke Mekkah sebagai orang yang menang]. Katakanlah: ‘Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata,’” (QS. Al-Qashash: 85). Dan firman-Nya yang mengatakan “Idzaa jaa-a nashrullahi wal fath”, menunjukkan masa yang akan datang.

Setelah diteliti lebih mendalam semua riwayat terkait hal ini, maka pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Dalilnya adalah penegasan Ibnu Umat ra yang mengatakan bahwa surat ini turun di Mina pada saat haji wada’. Kemudian turun ayat, “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridloi Islam itu menjadi agama bagimu,” (QS. Al-Maidah: 3). Setelah turun surat An-Nashr dan ayat ini, Nabi saw hidup 80 hari.

Lalu turun ayat Kalaalah, yaitu ayat terakhir surat An-Nisaa’, Rasulullah saw hidup setelahnya 50 hari. Kemudian turun ayat 128 dari surat At-Taubah, beliau hidup setelahnya 35 hari. Kemudian turun ayat 281 dari surat Al-Baqarah, dan Nabi saw hidup setelahnya 11 hari atau 7 hari menurut Imam Muqaatil (Tafsir Al-Qurthubi XX/33).

Hal ini sekaligus mematahkan pendapat yang mengatakan bahwa surat An-Nashr adalah surat dari Al-Qur’an yang terakhir turun. Yang benar, ia merupakan surat yang terakhir turun secara keseluruhan/utuh sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim.

Allah Yang Menentukan

Penggunaan kata “idzaa” pada ayat “Idzaa jaa-a …” (apabila telah datang) bukan “idz jaa-a…” menunjukkan bahwa janji Allah itu pasti, karena dalam bahasa Arab “idzaa” memiliki fungsi li’t tahqiq (pasti terwujud). Hal ini berbeda dengan “idz” yang berfungsi li’t tasykik (meragukan dan tidak pasti).

Tidak sedikit orang yang membanggakan kemampuan finansial, jabatan, gelar, pangkat, kecerdasan, ketokohan, popularitas, dan banyaknya jumlah pendukung dalam meraih kesuksesankemenangan. Bahkan, memastikan dan menyandarkan kesuksesan dan kemenangan pada variabel-variabel duniawi tersebut, seraya mengatakan, “Ini semua berkat kepandaianku” atau berkat kegigihan, kepopulerannya, dst. Seperti perkataan Qarun, yang Allah beritakan dalam Surat Al-Qashash ayat 78, “Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Mereka lupa, semua itu tidak akan terjadi jika Allah tidak menghendaki.

Karena itu, hampir semua ayat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang pertolongan, kemenangan dan sejenisnya selalu dinisbatkan kepada Allah swt. Termasuk dalam surat di atas, “Idzaa jaa-a nashrullahi wa’l fath” (apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan). Hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa kesuksesan dan kemenangan hanyalah milik Allah. Dia-lah yang menentukan sehingga kesuksesan dan kemenangan yang hakiki dalam aspek apapun hanyalah ketika menggunakan cara-cara yang dibenarkan oleh Allah swt.

Atas dasar itu Islam tidak memperkenankan penghalalan segala cara guna meraih kesuksesan dan kemenangan. Kita, para hamba-Nya, diwajibkan bersungguh-sungguh dalam berikhtiar untuk menjemput kemenangan dan kesuksesan. Inilah yang dilakukan Rasulullah saw. Sebelum kabilah-kabilah Arab itu masuk Islam secara berbondong-bondong, juga sebelum terjadinya Fathu Makkah, beliau saw telah melakukan beraagam upaya secara sungguh-sungguh sebagai prolog atas Fathu Makkah tersebut, antara lain terjadinya Shuhl Al-Hudaibiyah (perdamaian Hudaibiyah).

 

Menyikapi Kesuksesan dan Kemenangan

Melalui Surat An-Nashr, Allah swt memberikan taujihat kepada Rasul-Nya dan juga berlaku buat kita umatnya, bagaimana cara yang benar dalam menyikapi setiap kemenangan dan kesuksesan. Yaitu, dengan memperbanyak bertasbih dengan memuji Allah dan beristighfar. Karena Dia Pemilik dan Penentu kemenangan dan kesuksesan. Allah-lah yang mengatur kapan saat tepat kesuksesan dan kemenangan itu diberikan kepada hamba-Nya. “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”

Lalu, mengapa mendapatkan kemenangan dan kesuksesan malah diperintah dengan “wa’s taghfirhu”, beristighfar? Bukankah mengucapkan istighfar kerap dianjurkan setelah melakukan dosa atau maksiat?

Dalam kontemplasi kita, sangatlah tepat jika seseorang menang atau sukses itu banyak beristighfar berdasarkan fakta-fakta berikut:

  1. Bisa jadi dalam meraih kesuksesan dan kemenangan, manusia tidak sabar, sebagaimana disinggung Allah, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah sesunggugnya pertolongan Allah itu amat dekat,” (QS. Al-Baqarah: 214). Di sinilah tepat jika diperintahkan untuk beristighfar.
  2. Agar seseorang setelah meraih kemenangan dan kesuksesan tidak mabuk kemenangan sehingga terkadang merayakannya secara berlebihan, bahkan dengan maksiat kepada Allah yang telah memberinya kemenangan dan kesuksesan tersebut.
  3. Dalam meraih kemenangan dan kesuksesan, mungkin saja ada cara-cara yang tidak diridloi Allah.
  4. Barangkali ada kekurangan dalam memuji Allah dan mensyukuri beragam nikmatNya yang melimpah dan tidak terbilang, termasuk nikmat kemenangan dan kesuksesan.
  5. Agar meredam rasa ego dan sombong yang sering menyelimuti hati orang yang menang dan sukses.
  6. Juga untuk meredam rasa dendam terhadap musuh-musuhnya atau lawan tandingnya – yang terkadang sulit bagi kebanyakan orang untuk melupakannya.

Sikap inilah yang dipraktikkan Rasulullah saw sebagaimana riwayat di atas, bahwa setelah turun surat ini, beliau saw banyak membaca istighfar. Semoga hal ini pula yang kita lakukan tiap kita meraih kesuksesan dan kemenangan sehingga Allah memberikan keberkahan hidup kita, keluarga, bangsa dan negara kita. Aamiin….

Hasil gambar untuk tasbih

Tag:, , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: