Cuma 250 ribu

Di sebuah toserba, aku berada di dekat seorang ibu-ibu paruh baya dengan penampilan modis yang sedang ngobrol dengan salah satu karyawan toserba tersebut. Dari nada bicaranya, sepertinya mereka sudah kenal dekat seperti teman. Tidak bermaksud mencuri dengar, tetapi memang pembicaraan mereka sepertinya terbuka untuk umum, dengan suara yang bisa didengar siapa saja yang ada di sekitar mereka.

“Gimana mbak, tasnya dah dipake belum?”, tanya si ibu. “Belum bu. Ada barang apa lagi?”, tanya si mbak.

“yang baru ini nih (sambil menunjukkan dompetnya), bagus kan?”

“Wah, bagus Bu. Berapa ini?”

“Murah lho mbak, Cuma 250 ribu.”

“Wah, yang ini lebih murah ya, padahal yang kemarin 300 kan?”

“Iya..mau ambil gak? Awet barangnya daripada uangnya.”

“Iya, bener Bu.” Kemudian mereka tertawa bersama. Aku pun berlalu, gak tertarik dengan pembicaraan mereka.

Entah kenapa, bagian dari pembicaraan mereka itu agak mengusik hatiku. Aku tidak setuju. Bagaimana seseorang bisa dengan mudah membeli dompet seharga 250 ribu setelah sebelumnya membeli dompet juga dengan harga 300 ribu. Apakah memakai dompet harus yang se-mahal itu? Berapakah penghasilan mereka sehingga dompet seharga 250 ribu dia bilang “cuma”?

Trend, mode, rupanya sudah menjadi panutan baru, dan bukan hanya di kota besar, ternyata sudah merambah di sini, sebuah kota kecil. Ah, jika banyak wanita, ibu-ibu dengan mudah membelanjakan uang 250 ribu untuk sebuah dompet, dan dia bilang murah, berapakah harga tasnya? Ahh…betapa kasihan suami-suami mereka, yang sudah bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya. Ah…semoga suami-suami mereka diberikan kesabaran dan keberkahan dalam rizki mereka.

Sebenarnya tak layak juga aku berfikir seperti itu. Toh, bisa jadi si ibu dan si mbak tadi membeli barang berharga mahal untuk menyenangkan hati suami mereka. Kenapa aku su’udhon ya? Astaghfirullah…

Mungkin karena pikiranku berbeda. Bagiku sayang jika menghabiskan uang 250 ribu atau lebih untuk sebuah dompet, apalagi masih ada dompet lain yang bisa dipakai. Sayang, kebermanfaatannya jadi kurang. Bagiku 250 ribu itu uang yang banyak. Dan kalau ingin uang sebanyak itu awet, bukankah ada banyak cara membuatnya bukan hanya awet, tetapi juga menjadi penjaga kita?

Bayangkan jika uang itu dipakai untuk memberi makan orang berbuka dengan 1 paketnya seharga 10 ribu, berarti ada 25 orang yang mendapat jatah buka puasa. Artinya, dengan 250 ribu itu, bisa mendapat pahala 25 orang yang berpuasa. Jika 250 ribu itu diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, lembaga-lembaga amil zakat infak shadaqoh, maka 250 ribu insyaAllah akan menemani kita saat tidak ada yang bisa menemani kecuali amal kebaikan. Kebermanfaatan buat orang lain juga lebih banyak.

Semoga masih banyak orang yang memikirkan aspek kebermanfaatan harta sebelum membelanjakannya.

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun:16)

Tag:, , , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

2 responses to “Cuma 250 ribu”

  1. Mita Alakadarnya says :

    klu saya yang di tawari dompet itu, pasti dengan spontan saya jawab “apa 250.000 mahal banget bu”
    bagi saya 250.000 itu udah dalam katagori mahal..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: