Belajar Ikhlas dari Petani

Ahad pagi kemarin aku jalan-jalan pagi bersama kedua orang tuaku. Semoga badan sehat, hati juga sehat. Refreshing juga sih, selama ini jadwal padet sampai kurang waktu untuk diri sendiri, kurang waktu untuk mendekat pada kekasihku. Jadinya kena futur nich. Semoga dgn jalan-jalan, refreshing, liat dunia luar, jadi lebih dekat lagi dengan yang tercinta dan penyakit futurnya segera hilang🙂

Berjalan sekitar 1 km ke arah utara, pas sekitar sawah-sawah, bapak ngajak untuk masuk, lihat sawah. Ok deh, lama juga gak maen ke sawah. Terakhir mungkin sekitar 5 tahun lalu ketika masih ngerjain skripsi, maen ke sawah pakdhe dekat rumah mbah.

Masuk area sawah masih cukup sepi. Rumput di sepanjang pematang yang kami lewati masih basah oleh embun dan sisa hujan kemarin. Tanahnya pun basah alias ‘jeblok’. Lewat empat petak sawah, kami bertemu dengan beberapa petani yang sedang memanen padi. ‘derep’ istilahnya. Padi sudah dipotong hari sebelumnya, tetapi dirontokin bulir padinya hari itu. Kulihat sawah yang hendak dipanen ibu-ibu tadi dari kejauhan. Mereka sudah mulai. Cara mereka masih tradisional, belum menggunakan mesin perontok padi. Mereka dengan semangat ‘nggebuk’(memukul) padi, batang-batang padi mereka pukulkan ke sebuah papan agar rontok bulir-bulir padinya. Melihat kerja keras mereka, aku hanya tersenyum, bahagia.

Maju sekitar tiga petak ke depan, kami menjumpai seorang kakek dengan cucu-cucunya di areal tanaman padinya yang belum tua. Mereka sedang ‘ngesat’ alias mengeringkan. Air yang ada di areal sawah dialirkan keluar sehingga sawah tidak lagi seperti kolam, tinggal tanaman padi.  Proses ini dilakukan saat padi mulai berisi, begitu kalo tidak salah penjelasan bapak. Si kakek tadi mengajak cucu-cucunya, karena di sawah itu dia memelihara ikan. Saat ‘ngesat’ seperti ini, ikan-ikannya diambil. Mereka belepotan lumpur, menangkapi ikan di sawah. Lucu, kayaknya asyik banget J (klo gak lagi bareng bapak ibu, pasti pengin ikut. Hehehe… :-P)

Beberapa petak di depannya, kemudian kami belok kiri, ke arah sawah kakek. Yang bagian bawah sedang ditanami padi oleh budheku, yang atasnya baru disiapkan untuk tanaman cabe oleh kerabat yang lain. Kami berjalan ke pojok, sampai daerah ‘uritan’. Disebut bergitu mungkin karena bentuknya yang kecil memanjang di antara dua aliran ‘kalen’ (semacam kali atau selokan kecil untuk pengairan) seperti buritan kapal.

Sepanjang perjalanan kami, bapak ibuku yang memang berlatar belakang petani, menceritakan banyak hal, tentang masa kecil mereka di lahan pertanian, tentang masa tanam padi, bagaimana dulu ikut jadi buruh saat memanen padi untuk membantu orang tua, bagaimana mereka sangat menghargai sebulir nasi (karena mereka tidak selalu bisa makan nasi beras, ada kalanya cukup nasi jagung atau aapa seadanya). Banyak hal, banyak cerita yang kudapat.

Puas dari sana, kami kembali menyusuri pematang yang tadi. Di tempat kakek tadi, cucunya sedang beristirahat, si kakek pun saling menyapa dan bercerita dengan  bapak. Dia menceritakan padinya yang kurang berisi alias ‘gabuk’. Dengan senyum di wajahnya dia mengatakan, “Nggeh, sakdermo nampi. Pun diatur Sing Kuwaos. Sing penting pun setiyar (maksudnya ikhtiar-pen), nggeh to?” (Ya, sekedar nerima. Sudah diatur oleh Yang Kuasa. Yang penting sudah ikhtiar, ya kan?” Subhanallah… beliau mengatakan tidak sedang mengeluh, lihatlah senyumnya yang mengembang, bahagia rasanya melihatnya, sebuah ekspresi rasa ikhlas. Subhanallah….

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya merenung. Aku, juga mungkin banyak orang yang berprofesi sebagai karyawan, di mana mendapat penghasilan rutin setiap bulan dengan nominal tetap, sering lupa bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah, sedikit banyak, itu adalah karunia dari Allah, atas kebaikan Allah, bukan karena kerja keras kita yang mungkin sebenarnya belum keras bekerja. Seperti hujan yang turun dari langit, seperti pohon dan tumbuhan yang ditumbuhkan Allah, seperti bunga yang menjadi buah, kemudian semakin besar, berubah warna dan rasa menjadi sesuatu yang lezat untuk kita nikmati. Seharusnya aku belajar dari petani, berhasil atau tidak tanamannya di sawah, diterima dengan senang hati sebagai karunia. Tidak ada keluhan, tidak ada berharap terlalu tinggi. Astaghfirullahal ‘adhiim…ampuni kami yang tak pandai bersyukur, ampuni kami yang kadang masih terbersit rasa sombong di hati, ampuni kami yang sering lupa akan kebesaran dan nikmatMu yang takterhingga.

Ini mungkin salah tarbiyah yang Allah berikan padaku yang sering kurang bersyukur, yang kurang ikhlas dalam segala hal, jadi terkesan munafik. Ah, terima kasih ya Allah, Engkau telah mengingatkanku…

Tag:, , , , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

2 responses to “Belajar Ikhlas dari Petani”

  1. jaraway says :

    *narik napas jeruuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: