Ganbarimashoo!

Ayo kita berjuang!

Siapapun kita, apapun profesi kita, pelajar, mahasiswa, guru, karyawan, ibu rumah tangga, pengusaha, semua orang pasti punya sesuatu hal yang akan diperjuangkan. Ada kalanya segala sesuatu menjadi semakin berat ketika ujian datang menghadang. Di situlah iman kita diuji, apakah akan terus berjuang dan bertahan, atau akan pasrah menyerah dan putus asa.

Di sini aku pengin menceritakan beberapa kisah perjuangan yang seringkali membuatku bangkit lagi ketika mengingatnya.

***

Oniichan

Kakak laki-lakiku. Sebenarnya dia kakak sepupuku, tetapi karena rumah kami berdekatan, sedari kecil selalu melihatnya dan dia yang banyak menjagaku dan adik-adik sepupunya yang lain yang semuanya perempuan, maka otomatis, dia menjadi kakak laki-laki kami, sekaligus kakak tertua kami. Ini hanya sepenggal kisah, bagian kecil yang kupelajari darinya.

Kakakku yang satu ini bukanlah seorang yang pintar. Bisa dikatakan nilai akademisnya sangat pas-pasan, kuliah pun harus di ‘luar negeri’ dengan nilai akhir yang cukup jauh dari kata memuaskan. Keistimewaannya, dia selalu tampak santai, bergaul dengan siapa saja, di mana saja. Orangnya supel, mudah bergaul.

Lulus kuliah, dengan nilai yang seadanya, dia mencoba mencari-cari pekerjaan yang cocok untuknya (tentu saja dengan bekal minim yang dia punya), berkelana ke mana.

Pernah mencoba mencari peruntungan di pulau seberang, dia mendatangi pamannya yang menjadi buruh perkebunan di Kalimantan Tengah. Berbekal keberanian, menyeberang pulau dengan naik kapal sendirian menuju tempat tujuan yang belum pernah dilihatnya. Budheku, yang tahu biaya hidup di sana mahal, membawakan beberapa peralatan dapur agar bisa masak sendiri di sana. Klo orang jaman sekarang, bisa jadi mentertawakan hal ini. Tapi tidak bagiku, aku yang masih SMA waktu itu, memandangnya dengan takjub. Tentu saja karena kami memang keturunan jawa murni yang turun menurun selalu berdomisili di pulau Jawa, waktu itu hanya paman dari ayahnya yang berdomisili di Kalteng.

Entah apa yang di carinya di Kalteng, tapi dia tidak betah di sana, dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Dia bilang biaya hidup di sana sangat mahal, dengan pekerjaan yang dikerjakannya, dia tidak akan dapat apa2. Akhirnya pulanglah kakakku ke tanah jawa.

Selang beberapa waktu, ada kerabat jauh yang mengajak merantau ke ibukota. Sang kerabat jauh katanya punya lahan parkir di sana, kakakku bisa ikut jadi tukang parkir di sana. Berangkatlah kakakku dengan semangat seperti biasanya, banyak tertawa dan bercerita.

Menjadi tukang parkir di Jakarta ternyata tidak seperti banyangannya, tidak seperti menjadi tukang parkir di kota kecil kami yang damai.

Di Jakarta dia harus tidur di emperan toko, tidak diberi tumpangan tempat tinggal oleh ‘sang kerabat’ yang memang terlihat ‘boss’ bagi kami. Sebenarnya ada semacam bedeng, hanya saja banyak preman di sana, kakakku tidak bisa sholat dengan leluasa di sana, maka tidur di emperan toko menjadi pilihannya. Sholatnya lebih tenang, begitu katanya.

Dia bercerita, di sana gaulnya kebanyakan dengan preman-preman, mereka bekerja seperti mafia layaknya yang dia lihat di film barat. Ada boss di atas para preman, ada pembagian wilayah, ada ‘hubungan gelap’ dengan oknum aparat, jika ada kejahatan tidak akan tersentuh. Mengerikan sekali mendengarnya, menakutkan…

Setelah bisa menutup setoran untuk bossnya, kakakku memutuskan pulang kembali ke kampung halaman. Jakarta tidak memberikan impiannya.

Dia kemudian memutuskan untuk tidak terlalu jauh dari kota kecil kami, dia pun masuk sebuah pabrik kayu lapis, jadi bendahara pembayar gaji karyawan. Gajinya kecil, tapi dia berusaha untuk menjalaninya dengan senang hati. Hingga suatu saat keadaan pabrik memburuk, beberapa karyawan bagian produksi kena PHK. Dia sendiri tidak di-PHK, hanya saja gajinya diturunkan pelan-pelan, memaksanya berpikir ulang dan memutuskan untuk keluar saja.

Alhamdulillah dia ketrima kerja di salah satu BUMD dan dia tekuni pekerjaannya dengan senang hati. Setiap hari pergi pagi pulang sore, 6 hari kerja, tetapi dia syukuri. Dengan pekerjaan itu dia menghidupi istri dan anak-anaknya.

Soal anak-anak, dia juga pernah mendapatkan ujian. Pernikahannya di awal tak kunjung mendapatkan keturunan, berusaha ke sana ke mari mengusahakannya. Alhamdulillah, kesabarannya selama 3 tahun mendapatkan hasil, dia mendapatkan putri pertamanya. Selang 3 tahun kemudian istrinya hamil lagi, tetapi Allah tidak jadi menitipkan pada mereka, istrinya keguguran. Baru 2 tahun lalu dia mendapatkan putra kedua-nya. Perjuangannya masih panjang, untuk kebaikan keluarganya dan orang-orang di sekitarnya.

 

Selalu ada kebaikan untuk diperjuangkan, apalagi untuk keluarga.

 

***

Oneechan

Klo tadi kakak sepupuku yang jadi ‘kakak pertama’ku, maka yang akan kuceritakan adalah kakak perempuan tertuaku. Sama, dia juga kakak sepupuku, rumahnya persis di sebelahku, hanya berbatas tembok dapur. Sedari kecil, kami main bersama. Dia sering mencurangi kami yang lebih kecil, but it’s ok. We had a lot of fun those days. Dia termasuk orang yang cerdas, cerdik. Dia yang pertama di antara kami yang masuk SMP favorit di kota kecil kami. Sampai sekarang, mindset-ku tentangnya adalah smart J

Kakakku yang satu ini adalah pembelajar sejati. Kubilang begitu karena dia kuliah terus…sampai kemarin beberapa hari yang lalu dia lulus dari S-1 nya yang kedua kali. Lho kok?

Dulu, dia kuliah keguruan di sebuah PTN di Jogja, mengambil jurusan Pendidikan Kimia. Sambil kuliah, dia ikut kuliah D-1 jurusan komputer.

Kuliah pertamanya ini berjalan cukup lama, pasalnya sempat cuti akibat kecelakaan yang mencederai kakinya. Paha kanannya mengalami patah tulang terbuka yang menyobek otot/daging sampai keluar. Proses penyembuhan cukup lama, alhamdulillah dia tidak trauma, bahkan ketika masih menggunakan kruk, dia sudah pengin berusaha naik motor lagi. Subhanallah…:-)

Di semester-semester akhir kakakku menikah. Mereka tinggal di kamar kontrakan kecil, kamar panjang yang dibagi 2 dengan sekat kayu lapis. Dapurnya di emperan belakang dekat pintu, diberi pagar kecil agar kompor minyaknya aman saat hujan. Kamar mandi pun masih numpang di rumah induk semang. Anak pertamanya lahir ketika masih mengerjakan skripsi. Aku ingat betul, ketika dia pendadaran, hanya ada 3 orang yang menunggu di luar ruang sidang, aku, suaminya, dan anaknya yang masih sangat kecil waktu itu.

Mungkin keliatannya kasihan banget, tapi aku takjub, aku senang melihat perjuangannya. Subhanallah…aku pengin bilang mereka “Kerenn!”

Selesai kuliah, tentu saja pengin kerja, selain bantu suami, juga mengaplikasikan ilmunya. Daftar sana sini, ternyata gak mudah. Akhirnya ngajar di sebuah Madrasah Aliyah di kota kecil kami. Suaminya tetap kerja di Jogja, anaknya ikut mbahnya di kota kami, disekolahkan di sebuah play group. Dengan sulitnya mendaftar guru untuk Mapel Kimia karena formasi yang dibutuhkan sedikit, budheku yang tak lain adalah ibunya memberinya saran untuk sekolah D-2 PGSD yang peluangnya banyak.

Sesuai saran ibunya, dia pun mendaftar D-2 PGSD di kampusnya. Dia mulai lagi menjadi mahasiswa baru dengan teman-teman yang usianya jauh lebih muda, sekitar umuranku atau beberapa lebih muda. Hari Senin-kamis ngajar di kota kecil kami, hari jum’at – ahad sekolah di Jogja. Suami di sana, anaknya di sini. Bolak-balik terus dia jalani kurang lebih 2 tahun.

Selesai kuliah D-2, pas ada lowongan CPNS di berbagai daerah. Ada 3 pilihan yang peluangnya cukup besar, pertama mendaftar guru SD di kota kecil kami sehingga dia bisa dekat dengan ortu, kedua guru Mapel Kimia di Palembang, tempat mertuanya dan ketiga guru SD di Jogja. Pilihan pertama dan kedua akan bereseiko terhadap pekerjaan suami, yang harus ikut pindah dan mulai kembali dari awal. Budheku yang kemudian mengingatkan agar mendahulukan suami, bagaimana pun seorang istri sudah menjadi hak suami. InsyaAllah ridlo Allah di depan mata.

Alhamdulillah, kakakku ketrima jadi guru SD di Jogja. Kami semua bersyukur untuk itu. Subhanallah.. begitulah cara Allah mempersatukan 3 anggota keluarga yang terpisah. Semoga keberkahan selalu terlimpah padanya dan keluarganya.

Saat ini, kakakku sudah melanjutkan kuliah jenjang S-1 PGSD, dan baru saja selesai.

Selalu ada ridlo Allah di balik perjuangan dalam kebaikan.

 

***

Tomodachi

Di antara buanyak teman dekatku, kuceritakan perjuangan salah satu di antara mereka. Ima, begitu kupanggil namanya.

Ima adalah temanku selama di Jogja, beda kampus, tapi tidak terlalu jauh. Kami satu angkatan, dan sama-sama di Fakultas Teknik. Asalnya dari Sulawesi. Kebetulan, saudara sepupunya kuliah di fakultas yang sama denganku.

Seringnya aktivitas bersama membuat kami semakin dekat, bahkan pernah kami berlomba dalam menghafal Al-Qur’an. Kebetulan capaianku sama dengannya. Bertambah lah semangat kami, bahkan menghabiskan sebuah surat pun kami bersamaan. Subhanallah…benar2 Allah mempersaudarakan kami. Kami selalu berbagi dalam banyak hal, saling membawakan oleh-oleh ketika habis bepergian, buka puasa bareng, bahkan dia pernah membuatkan masakan khas Sulawesi untuk buka berrsama.

Ketika aku memasuki masa KKN di Gunung Kidul, kami jadi jarang bertemu. Suatu hari aku dapat kabar dari teman yang lain bahwa Ima kecelakaan, terkena benturan di kepala dan berada dalam keadaan koma di ICU.

Deg…innalillahi wa inna ilaihi roji’un… rasa takut kehilangan muncul, apalagi beberapa waktu sebelumnya seorang teman meninggal dunia karena kecelakaan dengan kasus hampir sama. Jauhnya lokasi KKN dan keharusan untuk standby di tempat KKN, menjadikanku tidak bisa sering menjenguknya. Hanya doa-doa yang terus terpanjat semoga dia diberikan yang terbaik, diampuni dosanya, keluarganya diberi kekuatan dan ketabahan. Doa-doa terus mengalir, bantuan materi pun terkumpul dari banyak pihak untuk membantu operasinya.

Dia menjalani operasi otak. Dia lumpuh, di awalnya hanya jari kaki kanan yang bisa bergerak. Berbulan-bulan dia menjadi penghuni rumah sakit, terus menjalani terapi dan pengobatan sehingga pelan-pelan dia bisa menggerakkan tangan dan anggota badan yang lain, sedikit demi sedikit bisa berbicara walaupun tidak jelas. Lama kelamaan alhamdulillah, mulai bisa berdiri kemudian berjalan. Sedikit demi sedikit berbicara agak jelas dan mulai mengenal tulisan.

Ia mengambil cuti kuliah, tetap bersikeras bahwa suatu saat dia akan menyelesaikan kuliahnya.

Setelah tidak tergantung dengan rumah sakit, dia dibawa pulang ke Sulawesi, menjalani rawat jalan di sana agar keluarganya mudah dalam menjaga dan merawatnya. Semua itu berlangsung dengan kondisi kepalanya tanpa tempurung kepala bagian belakang.

Selang kurang lebih 1 tahun, dia kembali ke Jogja untuk menjalani pemasangan tempurung kepala. Alhamdulillah kondisinya terus membaik, komunikasi kami juga lebih lancar karena pelan2 sudah bisa ngetik sms.

Dia beneran melanjutkan kuliahnya, dengan diawasi adek dan sepupunya yang juga kuliah di Jogja. Juga dibantu teman-temannya. Masih perlu diawasi karena kontrol tubuhnya belum begitu baik, berjalan di pinggir jalan lama kelamaan bisa ke tengah jalan, memegang pisau juga bisa berbahaya.

Subhanallah, dia bisa menyelesaikan kuliahnya. Saat itu menjelang pernikahanku. H-1 dia datang ke rumah bersama sepupunya. Mereka berdua menemaniku mengakhiri masa lajangku.

Subhanallah…sungguh Maha Besar Allah dengan segala Kuasa-Nya.

Tidak ada alasan untuk berhenti berjuang karena rahmat-Nya tak terhingga.

 

***

Tiga cerita di atas hanyalah sampel. Sebenarnya dapat kita lihat orang-orang di sekitar kita yang tak pernah berhenti memperjuangkan kebaikan. Apalagi jika kita mau mendengar dan belajar dari orang tua dan orang-orang yang lebih dewasa di sekitar kita. Mereka lebih dewasa, lebih berpengalaman, lebih banyak merasakan ujian hidup yang beragam.

Hidup ini masih sangat panjang, cita-cita kita masih banyak, dan semakin jauh kita melangkah, ujian  yang akan menghadang kita juga semakin besar. Seperti pohon, di mana semakin tinggi, semakin kencang pula angin yang menerpanya.

Tapi itu bukanlah alasan bagi kita untuk berhenti memperjuangkan kebaikan alias ‘mutung’. Bahkan ketika kita jatuh ke dalam dosa dan maksiat pun, Allah selalu memberikan harapan akan ampunan-Nya. Jangan bilang, “terlanjur basah, ya sudah mandi sekali” . hehehe… itu mah lagu ya…

So, mari kita kumpulkan kembali energi kita, kita bangkit untuk masa depan yang lebih baik.

Ganbarimashoo!😉

Tag:, , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

2 responses to “Ganbarimashoo!”

  1. hidatte says :

    Ishou ni ganbarimashou :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: