Miskin Tapi Kaya

Salah satu hal yang sangat membekas saat beberapa waktu lalu baca buku “Saga no Gabai Bachan” adalah kekayaan hati si nenek. Betapapun sangat miskinnya keadaan beliau, setiap hari menanti bahan makanan dari “supermarket” sungai di depan rumahnya yang gratis, makan tahu pun membeli yang rusak biar dapet separuh harga, musim dingin pun tidak punya pemanas kecuali termos yang ditaruh di bawah selimut, tapi beliau tetap tidak pernah mengeluh, hidup dengan bahagia, dan tidak pelit untuk memberikan bantuan kepada orang yang meminta tolong. Subhanallah…termasuk jenis makhluk langka untuk jaman sekarang. Miskin, tapi kaya hakikatnya.

Sekarang banyak kita lihat orang yang secara materi, fisik, kaya. Rumah ada, bahkan besar, tak jarang yang punya lebih dari satu. Kendaraan ada, mobil pun sudah banyak yang punya, lebih kaya lagi, mobil tidak cukup satu atau dua biji saja. Tanah, sawah, pabrik, toko, dan sebagainya. Sayangnya kekayaannya seringkali tidak diikuti dengan hati yang juga kaya. Tak jarang semakin kaya menjadi semakin pelit. Jangankan untuk bersedekah dan membantu orang miskin, untuk iuran di pertemuan RT atau RW pun sulit. Iuran kebersihan yang nilainya kecil dihitung-hitung banget untung ruginya. Na’udzubillaahi mindzalik. Kaya, tapi miskin.

Jadi inget sebuah hadits yang pernah disodorkan seorang teman di waktu SMA dulu. Aku tidak ingat benar momen apa saat itu, hanya sajaa aku ingat cuilan kertas tempat dia menulis hadits itu dulu kusimpan dan kutempel di lemari. Laisal ghinaa ghinaa unnafs. Tidak ada kekayaan kecuali kekayaan hati.

Sungguh indah jika kekayaan harta benda dunia diikuti dengan kekayaan hati. Bukan hanya yang bersangkutan yang berbahagia, tetapi orang lain pun ikut bahagia. Dan aku yakin, kebahagiaannya terletak saat dia berbagi, saat memberi orang lain. Karena kekayaan yang ditumpuk dan pelit untuk dibagi hanya akan membawa kecemasan karena harus menjaganya, karena takut dicuri, karena takut berkurang, dan sebagainya.

Bersyukurlah diriku berada di antara keluarga yang menyadari hal seperti itu. Orang tua yang mengajarkan sedekah, mengajari untuk berlatih menunaikan zakat sejak kecil meskipun sebenarnya belum wajib berzakat. Adik yang sampai saat ini menjadi rekan untuk saling mengingatkan akan saudara-saudara yang membutuhkan bantuan di luar sana, suami yang menjadi pendukung dalam setiap aktivitas kebaikan, mertua yang juga memberi contoh berbuat baik, meskipun di saat-saat yang terbatas sekalipun. Subhanallah walhamdulillah… arigatou gozaimasu, minnaa.

Eh..ngelantur…sebenarnya mo nulis apaan sich?

Oya, sekedar pengin mengingatkan, kepada saudara-saudaraku yang membaca, dan terutama diri ini sendiri. Mari kita perkaya diri kita dengan memulainya dengan kekayaan hati, sehingga dengan itu semoga kehidupan kita menjadi bahagia lahir batin, di dunia dan akherat. Aaminn..

Jaa..

Tag:, , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

3 responses to “Miskin Tapi Kaya”

  1. jaraway says :

    aih kangen tulisanmuuu mbaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: