Perjalanan Pasir

Pernah lihat pasir bangunan? Tahukah dari mana ia berasal? Yupp…pasir bangunan berasal dari pasir vulkanik dari gunung berapi. Ketika gunung berapi meletus, ada beberapa material yang keluar bersama lava pijar. Di antaranya ada yang berupa batu, pasir, maupun debu vulkanik. Lava pijar pun ketika mengalami pendinginan akan menjadi bebatuan. Subhanallah, berbagai macam bebatuan vulkanik tersebut sangat bermanfaat untuk kehidupan kita. Nah, yang pengin kuceritain kali ini adalah pasir dan perjalanan ‘hidup’nya.

Pasir, dari penciptaannya jelas punya misi, punya tujuan yang hendak dicapai. Misalnya saja, pasir ini pengin jadi bagian dari bangunan yang kokoh dan bermanfaat untuk banyak orang. Ketika ‘terlahir’ dari letusan gunung berapi, dia akan mengikuti aliran lava pijar melewati sungai. Akan tetapi tidak semua pasir bisa ikut turun gunung dan berkelana di sungai. Akan ada pasir yang masih tertinggal di puncak gunung dan tercecer di lereng gunung selama perjalanan.

Memasuki kaki gunung di mana para penambang pasir bekerja, kebanyakan pasir akan mengendap dan menunggu giliran untuk diambil dan diangkut dengan truk. Saat itu tiba, tidak semua pasir dikeruk dan masuk ke dalam truk. Ada saja yang tercecer dari sekop para penambang. Pun ketika berhasil masuk ke dalam truk, masih ada sebagian kecil yang menyelip di antara celah truk dan terjatuh.

Di dalam perjalanan pasir di atas truk menuju depo pasir atau menuju tempat pembangunan rumah atau gedung, pasir itu terkena angin, sebagian kecil akan terbawa angin, menjadi debu beterbangan. Niat yang awalnya ingin mengokohkan bangunan ternyata berakhir menjadi debu yang mengganggu pandangan pengendara kendaraan di belakang truk yang mengangkutnya. Kasihan…

Sampai tempat proyek pembangunan rumah/gedung, kuli tukang batu akan mencampur pasir bersama semen menjadi adonan tembok. Sebagian untuk fondasi bangunan. Ketika sudah menjadi adonan, ternyata tidak semua adonan bisa ikut berpartisipasi mengokohkan bangunan. Ada saja adonan pasir yang tercecer.

Akhirnya jadilah rumah/gedung yang diimpikan. Pasir sudah mendapatkan apa yang sudah dicita-citakannya. Akan tetapi ada saja ujiannya. Tembok bagian tertentu bangunan harus menerima takdirnya untuk dipukul dan dimasuki paku. Sebagian kecil pasir-semen tentu saja harus mengalah dan gugur jadi debu.

Begitulah perjalanan pasir dari tempat ‘terlahir’nya untuk mendapatkan tujuan ‘hidup’ yang dicita-citakannya.

***

 

Melihat dari perjalanan pasir di atas, sepertinya kehidupan kita tidak jauh berbeda dengan perjalanan pasir.

Sejak terlahir di dunia, kita sudah punya visi untuk dicapai. Dalam pertumbuhan dan perkembangan kita pun menjalankan misi-misi hidup kita dalam rangka meraih visi yang kita cita-citakan. Akan tetapi perjalanan manusia tidak selalu mulus, tidak mudah untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan, tidak mudah untuk menjadi yang terbaik yang bisa menjadi penyokong ‘bangunan’ seperti yang kita cita-citakan.

Sejak masih kecil, ada saja gangguan dan godaan yang bisa mengalihkan perhatian kita dari cita-cita semula. Ada televisi, ada mainan, ada teman yang kadang membuat kita lalai dari belajar, dari mengaji, dari sholat. Mulai remaja, ada saja pengaruh teman dan pergaulan yang menggoda untuk lebih banyak berada di luar rumah sekedar main daripada membantu orang tua di rumah, daripada berbuat kebaikan bagi lingkungan. But, berada di luar rumah tidak selalu buruk, jika di luar rumah dalam rangka menebarkan kebaikan, mencegah kemungkaran.

Beranjak dewasa ada gangguan bernama cinta kepada makhluk berbeda jenis yang ketika tidak dimenej dengan baik akan menjauhkan diri dari Yang Maha Kuasa, melenakan diri dari tujuan hidup yang sebenarnya. Tapi jangan khawatir, ketika bisa mengatur cinta itu, meletakkannya di jalur yang benar, insyaAllah bisa menjadi salah satu penyemangat, pendukung, dan partner dalam meraih cita-cita. So, jadikan cintamu sejalan dengan citamu.

Lebih matang lagi, dunia mulai berada dalam genggaman. Kesibukan dalam bekerja, dalam bisnis yang semakin luas, banyaknya fasilitas yang sudah di tangan, kadang melunturkan semangat dan mengalihkan perhatian kita dari tujuan semula. Sholat tertunda karena telfon bisnis, kerjaan kantor, dan sebagainya.

Semakin dewasa pun takkan lepas dari ujian. Ujian dari keluarga dan anak2, ujian dari tetangga dan kolega, maupun dari orang-orang yang berada di bawahnya.

Seperti pasir yang tidak semuanya menempel dan menjadi tembok pengokoh bangunan, seperti itulah kita yang tidak semuanya berhasil meraih tujuan hidup yang sebenarnya.

Untuk tetap melekat pada ‘bangunan’ kita butuh semangat, kita butuh istiqomah, dan butuh pertolongan dan rahmat-Nya. untuk itu, marilah kita bareng2 saling mengingatkan, saling menyemangati, saling mendukung agar kita semua tetap istiqomah dan bersama-sama meraih cita-cita tertinggi kita. Jangan lupa untuk terus berdoa pada Yang Membolak-balikkan hati kita.

Yaa muqollibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala diinika, wa tha’atika, wa da’watika. Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitana wa hablanaa min ladunka rahmah. Innaka antal wahhaab

Tag:, , , , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: