Nyari Berkah

Di kalangan masyarakat Jawa, terutama yang masih kental kejawen-nya pasti sering denger kata-kata ‘golek berkah’ (nyari berkah). Maksudnya mencari keberkahan dalam usahanya atau apapun itu. Hanya saja sering salah dan terbawa kepada sesuatu yang berbau syirik. Ada yang mencari berkah di kuburan/makam, di bukit, gunung, pohon tua yang malah menjadikannya seorang hamba setan. Dia tidak meminta keberkahan kepada Allah, tetapi kepada benda mati. Proses memcari berkah ini ada yang menggunakan ritual tertentu, ada juga yang ‘cukup’ dengan memberikan ‘persembahan’ alias sesaji.

Di kalangan masyarakat muslim pun kejadian serupa tapi tak sama juga ada. Hanya saja yang menjadi ‘tuhan’ alias ‘sesembahan’ yang dimintai berkahnya bukan benda mati. Kadang obyeknya adalah tokoh yang dianggap suci, seperti kyai atau wali. Biasanya silaturahim ke kyai tersebut dengan membawa maksud tertentu. Silaturahim gak salah kok, cuma ketika kemudian niatnya untuk minta berkah, apalagi diembel-embeli minta air yang sudah dido’akan dan diludahi (ihh…jorok) sang kyai? Kemudian airnya digunakan untuk obat, untuk disiramkan ke tempat tertentu, dan sebagainya?? Eitss…tunggu dulu. Bukankah itu berarti terlalu mengagungkan sang kyai dan  menuhankannya?

Ada yang perlu kita benahi dalam memaknai arti mencari keberkahan dalam hidup kita, dalam setiap rizki dan nikmat yang kita dapatkan.

Gimana tuh?

Keberkahan, ya harusnya kita cari, kita minta dari Yang Memiliki Keberkahan, siapa lagi klo bukan Allah swt.

Caranya?

Coba kita cek ulang, lihat kembali diri kita. Apa yang mendasari kita melakukan segala sesuatu? Kepada siapa kita meminta? Untuk mendapatkan keberkahan, maka kita usahakan agar dalam setiap aktivitas kita, belajar, bekerja, membelanjakan harta, menikah, mengurus dan mendidik anak, melayani suami, menafkahi istri, membantu orang tua, menyayangi sesama, semuanya, kita lakukan dengan mengharap ridli Allah swt, dengan cara-cara yang diridloi-Nya. Ini juga termasuk bagian dari rasa syukur kita atas semua nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Sudahkah kita bisa seperti itu? Mungkin kadang kala seperti itu, tetapi ada kalanya juga lupa atau terlena karena kepentingan dunia (yang nulis juga…). Nah, di sinilah perlunya kita sering bertemu, berkumpul dengan orang-orang baik, orang-orang alim, agar bisa saling mengingatkan, agar bisa saling introspeksi dan meluruskan kembali niat-niat yang terbelokkan.

Ada do’a simpel, mudah, yang sering kita ucapkan tetapi kadang lupa kita maknai sampai ke hati kita,

Allahumma bariklana fi ma rozaqtana waqina ‘adzaban naar.

Sudah hafal kan? Nah, perlu kita maknai lagi pinta kita, “Ya Allah, berkahilah rizki yang telah Engkau berikan kepada kami, dan jagalah kami dari ‘adzab neraka.” Sedikit, pendek, tetapi besar maknanya. Yuk kita amalkan sesering mungkin agar rizki kita mendapat keberkahan, bukan hanya dalam makanan yang kita makan, tetapi pada semua nikmat-Nya, kehidupan, kesehatan, indahnya Islam, indahnya ukhuwah, keluarga yang baik, teman yang sholih, semuanya…

Akhir-akhir ini lagi pengin cita-cita bisa niru seorang muslimah Kuwait, Senan Al-Ahmad namanya. Bayangin, sepertinya hidupnya penuh dengan berkah. Penasaran?

Lanjut di tulisan selanjutnya ya…lagi buru-buru ada agenda lain nih. ‘Afwan.

Sekali lagi, yuk, kita cari keberkahan hidup kita dengan cara yang benar, cara yang membuat Allah swt Sang Pemilik Berkah meridloi kita. InsyaAllah…:-)

Ganbatte kudasai! ^_^

Tag:

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: