(New) Catatan Hati Seorang Istri

Hari ini seorang saudaraku menjalani kuret (bener gak sih tulisannya??) alias proses pembersihan rahim di rumah sakit. Berawal dari kebahagiaan kami pekan lalu ketika dia berbagi bahagia mengetahui bahwa dirinya ternyata hamil lagi, sudah 2 bulan. Meskipun sempat mengeluarkan flek-flek, diperiksa di bidan ternyata tidak apa2, hanya kecapekan, diberi obat penguat kandungan dan disarankan banyak istirahat.

Akan tetapi kondisinya tidak memungkinkan untuk banyak istirahat, mengurus kedua anak yang masih kecil, sumur di rumahnya yang mengering, menjadikan aktivitas hariannya ekstra, ekstra dengan aktivitas ngangsu (ngambil air) dari tempat terdekat yang dimungkinkan, juga bolak-balik ke rumah ortu untuk numpang nyuci.

Hari jum’at – ahad mengalami pendarahan, diperiksa bidan, bidan menyarankan ke rumah sakit. Di rumah sakit di-scan, janin masih ada, tetapi disarankan untuk di-kuret karena janin sudah tidak menempel di dinding rahim. Saudara saya memaksakan untuk mempertahankan kandungannya.

Hari selasa, keluarlah gumpalan kecil berwarna putih. Merasa tidak yakin dengan apa yang dilihat, maka diambillah benda tsb dan dimasukkan ke dalam sebuah wadah dan dibawa periksa. Dokter, semua bidan menyatakan bahwa itu adalah janinnya. Demi kesehatan sang ibu, mereka menyarankan untuk kuret. Menyadari kondisi ekonomi keluarganya, dia memaksa untuk tidak kuret, minta obat saja, berharap semua di rahimnya yang tidak perlu akan keluar dengan sendirinya.

Sempat pulang, tetapi akhirnya luluh juga ketika ditelpon oleh salah seorang dokter yang dikenalnya, dan kemudian diyakinkan oleh suaminya. Tahu apa yang istimewa?

Proses kuret-nya.
Setahuku, dari teman2 yang sudah mengalami, kuret itu sakit sekali rasanya. Bahkan teman2 lain mengatakan bahwa kuret lebih sakit daripada melahirkan. Nah, saudara saya tadi, ketika ditanya, “Gimana mbak, rasanya di-kuret?”, jawabnya, “Rasanya mules-mules. Kayak mau BAB”. Subhanallah, orang di sebelahnya yang juga kuret sampai heran, bagaimana saudaraku tadi tidak terdengar mengeluh kesakitan.

Dia bilang, ini pertolongan Allah, bagian kekuatan dari do’a. Subhanallah, segala puji hanya bagiNya yang telah memilihkan dokter yang santun, yang berkata-kata baik, dan selalu meminta ijin dalam setiap tindakannya.

Bagiku, ini sebuah pelajaran, bagaimana perjuangan cinta seorang ibu yang ingin menjaga anak-anaknya, sekaligus seorang istri yang tidak ingin lebih banyak membebani suami berbuahkan kasih sayang Allah.

Aku pun ingat buku “New Catatan Hati Seorang Istri” karya mbak Asma Nadia yang kubaca beberapa waktu lalu. Kisah-kisah nyata yang tertuang sungguh bisa diambil hikmah dan pelajaran darinya. Buku yang sangat baik untuk dibaca para istri juga calon istri, agar bisa mempersiapkan diri menjadi istri yang baik bagi suami. Tak kalah baiknya jika para suami dan calon suami juga membacanya, karena dengan begitu bisa lebih memahami istrinya, lebih berhati-hati dalam meluruskan tulang rusuknya yang tercipta dalam keadaan bengkok itu.

Buatku sendiri, buku itu menyadarkanku banyak hal, hal-hal yang membuatku pengin nangis. Aku jadi sadar, betapa aku sangat beruntung mendapatkan suami yang baik hati, supel, dan ganteng, meski kadang bikin was-was karena model begini banyak dilirik orang…But I believe in him ^_^

Aku juga jadi sadar, bahwa selama ini aku belum bisa bersyukur padanya, dan padaNya. Perbedaan kadang memunculkan ego yang kemudian menjadikanku secara tidak sadar memintanya untuk bisa seperti pola pikirku. Bodohnya aku, bukankah kami berbeda, men and women? Hehehee…ingat yang begini jadi pengin menertawakan diri sendiri.

Alhamdulillah, aku jadi bertekad untuk memperbaiki diri, memperbaiki sikapku, semoga bisa lebih banyak bersyukur. Sungguh malu jika aku tidak bisa bersyukur pada suami yang telah banyak menghadirkan kebahagiaan, yang bisa menentramkan ketika rasa takut dan bimbang itu datang, ketika senyum dan tawanya membuat hati nyaman, dll, dsb.

Buat para istri, ayo kita terus perbaiki diri, perbaiki akhlak kita pada suami, sungguh, dia bukan hanya kebahagiaan kita, tetapi juga surga kita.

Buat para suami, belajarlah untuk lebih mengerti istri, karena doa-doa tulusnya akan selalu terlantun untukmu.

Buat semuanya, ayo kita jadikan diri kita selalu menjadi lebih baik, lebih baik bagi keluarga kita, lingkungan kita, dan yang terpenting menjadi lebih baik di hadapanNya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita. Aamiin…

NB: buat suamiku, jika kau baca tulisan ini, sungguh ingin kusampaikan terima kasih yang dalam untukmu. Jazakallahu khairan katsir ^_^

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: