Remidi

Apa yang terbayang di benak Anda ketika membaca judul tersebut?

Saya sendiri akan ingat pada masa-masa di mana saya sering mengulang ujian/tes/ulangan harian jaman SMA dulu. Iya, remidi, remidial, remidiasi, entah mana sebenarnya kata yang tepat untuk itu.

Saat kita berada di bangku sekolah, kita belajar banyak hal, teori dan praktek. Di akhir masa tertentu (bisa jadi semester, caturwulan, blok, atau BAB), hasil belajar kita akan dievaluasi dengan ulangan/tes/ujian. Dari ujian tersebut dapat dilihat seberapa besar hasil pencapaian, peningkatan ilmu pengetahuan kita setelah belajar. Meskipun, dengan adanya faktor-faktor lain seperti kondisi sakit saat ulangan, sistem belajar ‘wayangan’, dan sebagainya membuat hasil ujian tersebut tidak bisa mutlak dijadikan patokan tingkat prestasi dan kecerdasan seseorang.

Pendidik, pengajar, atau guru biasanya memberikan patokan nilai, ambang batas minimal nilai yang harus dicapai oleh siswanya. Jika hasil ujian/tes/ulangan hariannya tidak mencapai nilai tersebut, maka akan ada remidi, pengulangan atas pelajaran yang tidak lolos tersebut. Remidi tersebut bisa jadi hanya pengulangan ujiannya saja, tetapi bisa juga pengulangan materi dan proses pembelajaran.

Bagaimana jika kita belajar, kemudian diujikan, ternyata tidak lolos? Ada kekecewaan tentu saja. Menyesal karena tidak berusaha belajar dengan maksimal. Bagaimana jika setelah ujian remidi kita berhasil lolos? Pastinya senang, bahagia karena berhasil memperbaiki kesalahan kita.

Seperti itu juga dalam kahidupan kita. Allah mengajari kita lewat keberadaan orang lain, perbedaan pendapat, cara pandang, komunikasi, bahkan perbedaan prinsip dengan teman sekantor, itu pun menjadi ujian bagi kita. Dalam ujian kehidupan, Allah menguji kita, apakah kita sudah layak mengaku sebagai hamba-Nya yang beriman? Sudah jelas Dia menegaskan bahwa kita tidak akan dibiarkan mengaku beriman sehingga iman kita itu diuji. Dalam setiap ujianNya, kita diharapkan bisa belajar, mengambil pelajaran, ibroh dari setiap hal yang kita temui, dari setiap hal yang kita jalani.

Jika kita belum bisa lolos dalam sebuah ujian hidup, maka Dia akan mengulang-ulang ujian kita dengan hal yang serupa. Begitu besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, seorang hamba tidak akan dibiarkan tidak lolos, makanya Dia akan terus mengulang lagi sampai hamba tersebut lolos dari ujianNya. Pun ketika seseorang merasa sangat lemah dan payah sehingga ada perasaan tidak mampu meneruskan perjuangannya dalam ujian tersebut, Allah tidak akan membiarkannya. Ketika seseorang memutuskan untuk berhenti di sebuah jalan, entah karena kecewa dengan temannya, rekannya atau kecewa dengan dirinya sendiri, dia akan keluar dan merasa seolah-olah dia akan mendapati hidup yang berbeda di jalan lain. Tetapi lihat saja, Dia akan memberikan ujian yang serupa dengan ujian yang ditinggalkannya di tempat lain.

Sebegitu beratkah ujian hidup kita sehingga jika tidak lolos harus diulang-ulang terus?
Jangan bersedih, jangan lemah, jangan berputus asa dari rahmatNya. Sungguh ujian itu juga termasuk bukti kasih sayangNya kepada kita. Bukankah Ia berfirman:

Dan Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah ayat 286)

Dan sadarkah kita, bahwa ujian yang Allah berikan itu sangat kecil jika dibandingkan dengan nikmatNya yang berlimpah kepada kita.

Sungguh, akan Kami berikan kepadamu dengan SEDIKIT ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah ayat 155)

So, ketika kita merasa lemah tak berdaya, ketika merasa bersalah dan berdosa tapi seperti tak sanggup untuk memperbaiknya, jangan berputus asa dari rahmatNya.

…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.” (Yusuf ayat 87)

Lha terus gimana donk? Santai,, Allah kasih kita ujian, Dia juga memberikan kita petunjuk bagaimana melewatinya:

Maka ingatlah kepadaKu, maka Aku akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu ingkar. Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah ayat 152-153)

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d ayat 28)

Mengingat itu tentu saja bisa kita artikan dengan luas, dengan kita rutin ikut pengajian, dengan rutin dan banyak membaca Al-Qur’an, dengan bermajelis bersama oarng-orang yang sholih yang saling mengingatkan kepada kebaikan dan taqwa, dengan mengamati alam raya ciptaanNya, dan sebagainya.

Berbesar hatilah, karena Allah bersama kita. Janganlah kita bersikap lemah dengan ujian, karena Dia menciptakan ujian, tantangan untuk kita taklukkan, bukan untuk kita kalah darinya.

So, siap berjuang dengan hidupmu? Siap menghadapi remidi?
Siapa takut!😉

Bismillah….

Tag:, , , , , , , , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: