Galau??? Menulis aja yuk…

Entah sejak kapan, tak terasa kata ‘galau’ menjadi kata yang nge-trend dan akrab di telinga kita. Dari orang yang mengungkapkan perasaan terdalam dari hatinya ataupun sekedar bercanda.

Sebenarnya ‘galau’ itu makanan apa sih? Hehehee…bukan makanan ya? Sorry, becanda.
Pernah baca, ‘galau’ sendiri punya arti yang gak jauh beda dari perasaan khawatir, bimbang, gelisah, bingung, cemas, pikiran gak karuan. Aku sendiri mengartikannya sebagai sebuah kondisi berenergi negatif yang ada pada diri seseorang ketika kesulitan menghadapi permasalahan yang dihadapinya. Futur, or something like that.

Aku sendiri kurang suka mendengar orang mengucapkan kata ‘galau’ itu, sepertinya dia sedang menarik dirinya ke dalam energi negatif itu. Ehm…bukan berarti aku tidak pernah mengalami perasaan semacam itu, tetapi sering mendengarnya, atau membaca status di facebook seseorang yang “bergalau ria” tidak membuat perasaan menjadi lebih baik. Tapi itu bukan berarti aku menyalahkan orang yang menyampaikan kegalauannya. Karena pada tempat dan waktu yang tepat, menceritakan kegalauan kita bisa menjadi salah satu cara untuk mengambil semangat dan menghilangkan kegalauan. Tapi ingat, hanya di TEMPAT DAN WAKTU YANG TEPAT. So, kegalauan kita bukanlah konsumsi publik.

So, how?

Relaksasi, tentu saja. Relaksasi badan dan pikiran dengan dzikir dan tilawah. Dzikir yang baik adalah sholat dan membaca Al-Qur’an. Sangat efektif untuk semua jenis permasalahan, semua kondisi. Tidak percaya? Coba dulu…

Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan menulis. Dr. Stephen D. Krashen, seorang ahli bahasa dalam hasil risetnya menyebutkan bahwa “Menulis dapat membantu kita memecahkan masalah yang membelenggu pikiran kita. Karena dengan menulis, kita akan mampu mengekspresikan apa saja yang hendak kita tuangkan, yang barangkali selama ini telah lama terpendam”. Dengan menuangkan beban-beban yang terpendam, beban itu akan terasa lebih ringan.

Kucoba ternyata cara itu juga cukup efektif. Ketika aku merasa beban menghimpit, selain mengadukannya kepada Yang Maha Segalanya, aku juga mencoba menuliskannya. Kadang di kertas, kadang di laptop. Selesai menuliskannya, perasaan menjadi lebih nyaman. Tulisan itu tidak selalu kusimpan. Kadang kubuang. Tentu saja aku tidak ingin mengingat-ingat permasalahan itu lagi.

Dan ternyata, menulis itu menyehatkan jiwa raga lho… menurut seorang ahli psikologi, Dr. James Pennebeker, guru besar psikologi University of Texas, Austin, Amerika Serikat, “Orang-orang yang memiliki kegiatan menulis, pada umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat daripada mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Dengan mental sehat hal itu tentunya akan memberi stimulan yang positif pada tubuh kita secara fisik.  Kegiatan menulis sebenarnya dapat pula digolongkan sebagai terapi yang mampu menetralisir, bahkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit jiwa, hingga ke taraf depresi sekalipun”.

So, gimana menurut temen-temen?
Daripada galau dipiara, mending nulis aja kan? Yuuk…

Edisi semangat belajar nulis😛

Tag:, , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: