Berjalan bersama kambing

 

 

 

 

Sepotong kisah ini pernah diceritakan suamiku ketika aku sedang lemah. Semoga bisa diambil hikmahnya.

***

Dikisahkan, seseorang melakukan perjalanan bersama kambing. Melewati beberapa daerah yang berbeda. Semakin jauh mereka berjalan, mereka semakin kelelahan, kelaparan, lemahlah badan mereka. Kemudian sampailah mereka di sebuah padang rumput yang membentang. Rumputnya hijau dan lebat, segar pula. Di situ, si kambing bisa makan sepuasnya, menghilangkan rasa laparnya, hingga segar dan kuat lagi badannya.

Setelah kenyang dan dirasa cukup, mereka melanjutkan perjalanan. Tetapi karena orang tadi belum mendapatkan makanan, semakin lama badannya semakin lemah, hingga merasa tidak kuat berjalan, padahal perjalanan harus diteruskan. Maka ia pun menumpang pada si kambing, ia naiki kambing itu.

Setelah beberapa waktu sampailah mereka di sebuah kebun buah-buahan yang sudah masak dan siap panen. Bersyukurlah orang itu karena akhirnya dia mendapatkan makanan juga. Setelah kenyang makan buah-buahan, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Akhirnya sampailah mereka di tempat tujuan di mana ada banyak harta berlimpah di sana.

***

Seperti itu juga perjalanan hidup kita. Ada kalanya, diri kita merasa sangat lemah, tak berdaya menghadapi ujian-ujian hidup. Semakin jauh perjalanan, energi yang terkuras semakin banyak. Padahal perjalanan hidup harus tetap dilanjutkan, karena masih jauh dari tujuan.

Ada kalanya Allah memberikan pertolongan melalui teman seperjalanan hidup kita. Ketika semakin lemah, ternyata teman kita mendapatkan pertolonganNya, mendapatkan kekuatan kembali dariNya. Ketika teman kita sudah kuat, maka ia yang akan menjadi penopang kita, membantu kita dalam meneruskan perjalanan hidup. Pun ada kalanya kita sendiri yang mendapatkan kebaikan dan pertolonganNya, kita yang mendapatkan rezeki untuk kita manfaatkan. Hingga di akhirnya kita akan menemukan tujuan kita dalam keadaan semua rezeki kita diberikan olehNya. Bukankah setiap orang sudah mendapatkan jatah rezekinya masing-masing? Bukankah semua telah diatur dengan adil olehNya?

Yang harus kita lakukan adalah pertama bersyukur atas nikmatNya, baik yang kita terima secara langsung maupun yang melewati orang lain. Di situ kita juga belajar bersyukur kepada orang lain, sebagai wujud syukur kita padaNya. Yang kedua ikhlas menerima jatah keadilanNya. Ikhlas pada hal-hal yang telah ditentukan olehNya, kapan, di mana, dan dari mana rezeki kita dapatkan. Ketiga adalah sabar ketika memang belum saatnya kita mendapatkan jatah rezeki kita. Bagaimanapun jatah rezeki kita pasti akan diberikan olehNya.

Dengan bekal ketiga hal tersebut, semoga kita termasuk golongan orang yang selamat di akhirnya, mendapatkan keberuntungan berupa kebahagiaan di akhirnya, mendapat kebahagiaan surgaNya. Aamiin…

Thank you so much for my husband, Barokallah….

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: