Mengenangnya…

Beberapa hari yang lalu, ada tamu yang teman bapak yang tidak mengetuk pintu, tetapi mengetuk kaca jendela, “tik-tik-tik…tik-tik-tik…”. Perasaan kenal irama ketukan kacanya… Ah, aku ingat, seperti itu dulu kakekku klo datang. Sebenarnya beliau bukan kakek kandung, beliau adeknya almarhum kakek dari ibu yang banyak berperan jadi ayah untuk ibuku dan saudara-saudaranya sejak kakek meninggal (beliau meninggal ketika pamanku masih sekolah).

Aku memanggilnya Mbah Bakri, dan beliau adalah salah seorang yang sangat menginspirasiku. Why? Ini sepenggal kisahnya yang kukenal.

Beliau bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kabupaten Wonosobo. Sepanjang yang kutahu, beliau di dinas yang mengurusi kependidikan (entah apa nama dinasnya waktu itu). Beliau termasuk orang yang care dengan nasib orang lain. Beliau banyak mendukung keponakannya untuk bersekolah (waktu itu, kebanyakan petani seperti kakek tidak menyekolahkan anak perempuannya apalagi sampai lebih tinggi dari SD).

Selepas dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru), ibuku, juga diikuti kedua adiknya mengajar wiyata bakti di Kabupaten Wonosobo. Sampai kemudian diangkat menjadi guru di sana. Setelah menikah, ibuku disarankan Mbah Bakri untuk pindah mengikuti suami, beliau yang membantu mengurus kepindahannya dan memastikan tidak dikenai pungli dalam proses pindahnya. Alhamdulillah dengan bantuan beliau, ibuku pindah ke Temanggung, sedangkan salah seorang adiknya menetap di sana.

Beliau tidak hanya membantu keponakannya, beliau juga membantu banyak orang (guru) di daerah Wonosobo yang akan pindah agar keluarganya jadi satu. Beliau tidak memandang dari keluarga manapun.

Kebaikan hati beliau untuk mengurus segala sesuatunya sampai Semarang dan Yogyakarta bahkan tanpa minta imbalan, sering membuat orang merasa berterima kasih dan ingin memberikan ucapan terima kasih, baik berupa “amplop” maupun barang. Tetapi beliau selalu menolaknya dan berkata, “Kalau tidak mau tambah saudara, ya sudah, jangan datang ke sini lagi!” Begitulah cara beliau menolak gratifikasi.

Beliau hidup dengan sederhana. Kebutuhan keluarga beliau dengan 4 anaknya dibantu istrinya yang berjualan di rumah, dan kadang menerima pesanan kue. Tidak ada sepeda motor bagus, apalagi mobil. Cukup sepeda motor sederhana yang bisa mengantarnya sampai Semarang dan Yogyakarta. Klo pulang selalu mampir Temanggung sekedar menengok kakak iparnya (nenekku yang memang sering sakit) dan menanyakan kabar. Jika sampai Temanggung agak malam, maka beliau akan mampir rumahku saja dan menanyakan kabar nenek.

Beliau suka bersilaturahim. Pun setelah pensiun. Beliau bersama beberapa rekan mengadakan pengajian rutin untuk para pensiunan. Mendatangi satu per satu rumah temannya untuk mengajak datang pengajian. Di rumah, beliau tidak segan-segan membantu istrinya, apalagi saat ada pesanan kue ^_^

Terakhir aku bertemu beliau pada bulan Syawal 1431H saat beliau berboncengan dengan Mbah Ibu (panggilanku untuk istrinya) silaturahim ke rumah nenek. Beliau meninggal karena sakit jantung tahun lalu, saat aku masih mendapatkan tugas di Bandung. Mengingat beliau membuatku pengin berbuat yang terbaik dengan apapun yang bisa kulakukan. Aku ingin punya hidup yang penuh manfaat untuk orang lain seperti beliau. Barokallah Mbah…

Selamat jalan Mbah Bakri, semoga amal baikmu diterima oleh Allah swt dan semoga Dia memberikan tempat yang terbaik untukmu.

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: