Gara-gara….

Tadi pagi, suatu benda kecil menempel di kaca helmku, mengingatkanku pada salah satu pengalaman lucu, sekaligus bodoh, jaman masih kuliah dulu. Ceritanya begini…

Suatu hari pulang kuliah, seperti biasa langsung ambil helm, pakai, tancap gas. Tanpa disadari, ternyata ada seorang, eh seekor ulat bulu berwarna kuning cerah sebesar ibu jari lagi nongkrong di bagian dalam kaca helmku yang waktu itu belum kuturunkan.

Pas kaca mau kuturunkan, kaget rasanya ada yang di nongkrong di depan mata.  Dan itu membuatku tidak fokus ke jalan yang kulalui. Tangan kiri kupakai untuk menahan agar kaca helmku tidak turun. Jangan sampai si ulat nempel ke mukaku yang coklat seperti batang pohon.

Tiba-tiba brukk!!

Motorku menabrak pembatas jalan. Tubuhku jatuh tersungkur di sebelahnya. Bukan lecet di tubuh atau motor yang langsung kuperhatikan. Langsung kubuka helm, kupukul-pukulkan ke tanah agar si ulat jatuh. Baru setelah itu bisa kusadari keadaan sekitar. Fiuhh…lega…

Teman kuliahku yang kebetulan lewat di arah berlawanan, terheran-heran. Tidak ada angin tidak ada hujan, nabrak pembatas jalan dan jatuh sendiri. Jatuh pun bertingkah aneh. Ketika ditanya, maka kujawab, “Gara-gara ulat nih…bla bla bla…” Tentu saja dia tertawa. Dan alasan itu selalu saja kukatakan ketika cerita jatuhku sampai kepada teman-teman yang lain.

***

Ingat kejadian itu, membuatku geli, sekaligus merasa bodoh. Bukankah waktu itu aku bisa langsung berhenti dan membuka helmku untuk kubuang ulatnya? Ah, itu sudah takdirku untuk jatuh.

Satu hal yang kemudian kupikir-pikir lagi. Mengapa aku selalu mengatakan “Gara-gara ulat?” Bukankah si ulat itu tidak bersalah? Bukankah ulatnya tidak melakukan sesuatu kedhaliman kepadaku, kenapa aku menyalahkannya?

Mungkin kita manusia memang sering seperti itu, malu mengakui dan  menyadari kesalahan sendiri, malah menimpakan kepada orang lain. Bisa jadi kita berbuat dzalim, tetapi orang lain yang kita jadikan kambing hitamnya. Astaghfirullahal ‘adziim…

Teman-teman, ayo kita introspeksi diri kita, kita bersihkan dan perbaiki diri kita, mulai dari apa yang ada di hati dan pikiran kita. Bisa jadi, apa yang terlintas di hati dan pikiran itu lah yang membawa kita pada kedzaliman. Jangan lupa, mari kita saling mengingatkan untuk selalu istiqomah dan selalu membersihkan diri.

“…maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams [91]: 8 – 10)

Tag:, , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: