Menang Melayang

Tulisan ini saya ambil dari sebuah catatan seorang ayah untuk anaknya. Sang ayah menceritakan tentang salah satu “strategi” pada penggalan kisah Baratayudha.

 

Pada saat Perang Baratayudha berkecamuk, keadaan Pandawa sangat terdesak dan hampir dikalahkan oleh Kurawa yang saat itu dipimpin oleh panglima perangnya yang hebat, Pendeta Durna. Melihat situasi yang genting tersebut, Kresna, arsitek perang Pandawa membuat strategi agar Pendeta Durna tidak menjadi panglima perang.

 

Bagaimana caranya? Ada sebuah strategi, yaitu jika anak Pendeta Durna yang bernama Aswatomo dibunuh, maka Pendeta Durna akan kehilangan semangat hidupnya dan mundur dari perang. Sayangnya pada waktu itu Aswotomo tidak diketahui keberadaannya. Muncullah ide untuk mengeluarkan isu bahwa Aswotomo sudah mati. Strateginya, jika Pandawa ditanya tentang keberadaan Aswotomo oleh Pendeta Durna, maka mereka akan berbohong dan mengatakan bahwa dia sudah mati. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa mau melakukannya tetapi si sulung Puntadewa tidak mau melakukannya.

 

Kresna tidak kurang akal. Dia membunuh seekor gajah bernama Surotomo. Ia membujuk Puntadewa untuk mengatakan bahwa “Surotomo” mati dengan kata “Suro” diucapkan dengan pelan sehingga yang lebih terdengar adalah “tomo mati” yang diucapkan dengan suara yang lebih keras.

 

Akhirnya isu itu tersebar dan sampai terdengar ke telinga Pendeta Durna. Ia pun bertanya kepada Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Tidak puas dengan jawaban mereka, ia pun mendekati kereta Puntadewa dan menanyakannya. Jawaban “Surotomo  mati” oleh Puntadewa dari atas kereta terdengar seperti “Aswotomo mati”.

 

Sesuai strategi, Pandawa memenangkan Perang Baratayudha, tetapi ada sesuatu yang terjadi. Puntadewa adalah orang yang tidak pernah berbohong, karenanya kereta kudanya selalu melayang, tidak pernah menyentuh tanah. Sesaat setelah Puntadewa menjawab “Surotomo mati” ketika ditanya Pendeta Durna yang menanyakan Aswotomo, kereta kuda Puntadewa tidak lagi melayang, keretanya menyentuh tanah. Dan sejak itu kereta Puntadewa tidak pernah melayang lagi.

 

Ini hanya sebuah kisah, tetapi semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran darinya.

 

Setiap fase kahidupan kita pasti ada perjuangan, pasti ada ‘peperangan’ dan ‘peperangan’ terbesar adalah melawan hawa nafsu kita sendiri.

Chayo semangat! Lakukan yang terbaik agar di setiap ‘peperangan’ kita bisa menang dan tetap melayang.

Thanks to Bapak ISN atas kisahnya.

Tag:, , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: