Oleh-oleh Silaturahim

Beberapa hari yang lalu saya sempatkan untuk bersilaturahim ke salah seorang teman lama. Waktu itu memang saya sedang pengin belajar dari sosoknya yang begitu kelihatan tenang, padahal setahu saya orang tuanya kurang begitu mendukung aktivitasnya di luar rumah.

Dari beberapa penggal kisah hidupnya yang diceritakan dan juga cara pandangnya terhadap ujian dan takdirNya, membuatku benar-benar kagum kepada beliau, kepada kuatnya iman beliau dalam menghadapi banyak cobaan. Sungguh membuatku malu karena sering merasa terlalu sedih dengan cobaan yang belum ada apa-apanya dibandingkan dengan cobaan yang beliau alami – semoga Allah selalu menguatkan iman dan kesabarannya, memudahkan segala urusannya -.

Beliau adalah seorang anak pertama dari keluarga yang bisa dibilang ‘kolot’, tidak mau menerima perubahan. Dulu, keinginannya untuk memakai kerudung ke sekolah mendapat tentangan keras dari keluarga sampai di akhir masa SMAnya. Beliau juga selalu hidup dalam keadaan tertekan di keluarganya yang memang kaku dan hubungannya seperti ‘kuburan’. Secara ekonomi memang beliau mendapat kemudahan fasilitas dari orang tuanya, tetapi hatinya merasa kebahagiaan dan ketenangan hidupnya bukan terletak pada harta dan kesenangan dunia.

Ketika menginjak bangku kuliah, beliau berinteraksi dan dekat dengan komunitas yang pemahaman agamanya bagus, dan akhirnya bergabung dengan komunitas tarbiyah. Beliau kemudian memutuskan untuk belajar zuhud dengan tinggal bersama keluarga saudaranya yang tinggal di sebuah kontrakan kecil terbuat dari triplek dan anyaman bambu, dengan sumber air berasal dari sumur yang masih harus menimba untuk semua keperluan airnya. Tetapi ternyata di situlah ketenangan yang dicarinya. Meskipun begitu ia tetap tidak lepas dari pengawasan sang ayah – seorang polisi – yang selalu khawatir dengan saudaranya itu. Ketakutan akan gerakan Islam yang sesat, dan sebagainya. Seminggu sekali ayahnya mengunjunginya memastikan anaknya ‘baik’2 saja. Namun demikian beliau tidak gentar untuk menjadi aktivis seperti teman-temannya.

Menjelang akhir masa kuliahnya, beliau merasakan ada keanehan di tubuhnya. Beliau melakukan pemeriksaan, dan ternyata beliau positif terkena salah satu jenis kanker. Shock, down, sakit, berbagai perasaan campur aduk. Sebuah takdir yang sulit diterima. Apalagi ayahnya selalu ‘mengejarnya’ untuk segera lulus. Semakin stress, maka rasa sakitnya semakin kuat terasa. Beliau termasuk orang yang sulit bercerita kepada orang lain, maka semua tekanan dan rasa sakit beliau tanggung sendiri. Sering muncul pikiran bahwa beliau tidak lagi punya harapan untuk masa depan. Beliau tidak mau memikirkan tentang jodoh dan pernikahan. Pikiran-pikiran seperti itu memperparah keadaannya.

Akhirnya beliau cerita kepada keluarganya, tapi tetap belum bisa bercerita kepada teman-teman di kampusnya. Beliaupun menjalani pengobatan dan akhirnya pembedahan sel kankernya. Karena seringnya beliau pulang ke rumah, pada akhirnya beberapa teman tahu dengan keadaannya. Sebagai seorang yang punya izzah, beliau merasa malu. Beliau merasa bahwa penyakitnya adalah aib, dan beliau tidak mau sampai orang lain mengasihaninya.

Ujian beliau tidak sampai di situ. Banyak ujian lain di keluarganya. Meskipun sudah beberapa tahun berlalu dari pengangkatan sel kankernya, tetapi tetap ada kekhawatiran akan munculnya kembali sel kanker tersebut seperti pada banyak kasus kanker yang pernah didengarnya. Beliau mengamati, ketika ruhiyahnya menurun, ketika tilawahnya kurang dari 1 juz dalam sehari, dsb maka ada rasa sakit datang lagi. Terutama ketika mengingat masa depannya. Tetapi seiring berjalannya waktu, beliau menyadari betapa ujian yang Allah berikan kepadanya adalah sarana agar beliau lebih dekat kepada Allah. Beliau pun menjadi semakin dewasa dalam menghadapi kenyataan hidupnya. Beliau lebih optimis menghadapi masa depan, bahkan berencana maksimal tahun depan bisa menikah.

Satu hal besar yang sangat kukagumi adalah keimanannya. Sambil tersenyum beliau bilang, “Dulu saya merasa malu jika penyakit saya diketahui orang lain, saya merasa itu aib yang harus saya tutupi. Tetapi sekarang tidak. Saya tidak perlu malu karena itu bukan kesalahan saya. Saya tidak mau dikasihani, tetapi saya juga menyadari, itu sesuatu hal yang wajar jika orang merasa kasihan. Saya tidak perlu memikirkannya. Saya bersyukur karena setiap orang yang tahu keadaan saya akan turut mendoakan saya. Dan saya berharap ketika ada yang tahu, bisa bermanfaat baginya.”

“Tidak perlu khawatir dengan masa depan, dengan apapun yang akan terjadi. Semua sudah ada dalam genggamanNya. Berusaha maksimal dan serahkan hasilnya kepada Yang Punya segalanya. Bukankah Ia yang menjadi tujuan hidup kita? Banyak hal yang harus dipikirkan, banyak orang di luar sana yang membutuhkan uluran tangan kita.”

“Kita bisa mendeteksi sendiri jika kita mulai stress, ada rasa cemas, khawatir, sering ingin menangis. Itu karena kita belum sepenuhnya bisa menerima takdir kita. Kita belum bisa memaafkan orang lain dan diri kita, artinya kita belum ikhlas dengan ketentuanNya. Jika mulai begitu, segeralah paksa diri kita untuk mendekat padaNya, jangan tinggalkan tilawah yang 1 juz per hari, intensifkan sholat malam, bersihkan hati kita. insyaAllah hati menjadi lebih tenang.”

Sungguh saya tidak menyangka wajah tenangnya, senyumnya menyimpan ujian berat dalam hidup. Saya benar-benar belajar banyak dari beliau hari itu.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS.Al-Baqoroh : 286)

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha (puas) dan diridhai. Maka masuklah dalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah dalam surgaKu.” (QS. Al-Fajr : 27-30)

Semoga sedikit tulisan ini bisa membangkitkan jiwa penghambaan kita kepadaNya, meningkatkan iman dan keikhlasan kita kepadaNya.

Tag:, , , , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: