Menyikapi Takdir

Adalah sunnatullah bahwa setiap orang pasti diuji keimanannya oleh Allah swt. Setiap orang diuji sesuai dengan kemampuannya.

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya…” (QS. Al-Baqoroh: 286)

Ada orang yang diuji dengan harta, pangkat dan jabatan, wanita, anak-anak, dsb. Seseorang yang lemah dalam hubungannya dengan wanita pasti tidak akan diuji dengan harta (jika ia mendapatkan harta, itu tidak akan menjadi ujian berat baginya), begitu pula dengan yang lain.

Apa yang telah terjadi pada seseorang, itulah takdirnya yang tidak bisa diubahnya. Begitu beratnya godaan masyarakat sekarang ini menjadikannya sering tidak mau menerima apa yang menjadi takdirnya. Karena takdir tidak sesuai dengan keinginannya, tidak bisa menghadapi kenyataan dirinya, maka tak jarang orang mencari-cari kesalahan orang lain, menghakimi orang lain, bahkan menyalahkan Allah swt. Makanya tak jarang kita lihat di berita orang begitu mudahnya kehilangan cinta dan hati nuraninya, begitu mudah menyakiti orang lain baik secara fisik maupun psikis, bahkan karena beratnya beban hidupnya, tidak menyerahkan khouf dan raja’nya kepada Allah Yang Maha Besar, tak takut untuk mencoba bunuh diri. Na’udzubillah…

Ada sebuah cerita yang semoga menginspirasi dan menguatkan iman kita kepadaNya, menjadikan kita ikhlas denganNya dan ikhlas kepadaNya.

Jum’at kemarin saya sempat berbincang agak banyak dengan seorang pegawai yang tampak bersahaja. Pak Nur namanya. Berawal dari kenalan biasa, kemudian saya bertanya tentang keluarga beliau.

Beliau bercerita tentang keluarganya, mertuanya, istrinya dan anak-anaknya. Sepenggal cerita yang sangat berkesan adalah kisah ketika istri beliau hamil. Ketika mulai terasa detak jantung si bayi, Pak Nur merasakan bahwa detak jantungnya ada dua, dia sudah tahu, bahwa anaknya akan kembar, tetapi beliau belum menceritakan kepada istrinya. ketika pemeriksaan dengan usg, kelihatan bahwa bayinya memang kembar. istri beliau menangis, merasa tidak siap dengan kenyataan yang dihadapinya. Dengan kondisi ekonomi eluarga yang pas-pasan, istrinya semakin sedih.

Apa kata beliau?

Beliau bertanya kepada istrinya, “Kau tidak siap? Kalau tidak siap kita kembalikan saja.”

Istrinya bingung. Apa maksudnya. “Jika tidak siap kembalikan saja kepada pemiliknya. Yang punya ya Allah. Kau bisa mengembalikannya?”

“Tidak.”jawab istrinya.

“Jika kau tidak bisa mengembalikannya, maka terimalah mereka. Allah yang telah memberikan mereka, berarti Allah juga yang akan membuat kita mampu. Allah jugalah yang akan menjaga mereka.”

Subhanallah…kalau kita bisa melihat takdir kita dengan kacamata beliau, bahwa takdir kita adalah kehendakNya, bahwa apa yang kita punya adalah milikNya..ketika kita tak sanggup menghadapinya, maka Allah yang akan membuat kita sanggup memikul beban seberat apapun yang diberikanNya.

Ini sebuah pengingat bagi diri sendiri yang sering lemah, juga buat saudara-saudaraku yang tengah diuji keimanannya. Jangan pernah berputus asa dari rahmatNya, ok?

Tengoklah ke langitNya, Ia Maha Tinggi, Maha Besar…Lihatlah ke sekitar, banyak sekali nikmatNya untuk kita, bahkan sering kita lalai untuk mensyukurinya…Tersenyumlah, maka beban di pundakmu akan terasa lebih ringan. ^_^

Tag:, , , , ,

About ryu1nayumi

Sebutir pasir yang berharap bisa bermanfaat untuk makhluk lain

2 responses to “Menyikapi Takdir”

  1. hamba sahaya says :

    semangat kawan……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: